Alat untuk mengukur suatu penggunaan pada umumnya disebut dengan meteran. Alat ukur/meteran pada perkembangannya terdiri dari dua jenis yaitu konvensional dan digital. Meter konvensional biasanya membutuhkan pengamat/orang untuk menentukan nilai ukuran, sedangkan meter digital akan langsung menampilkan hasil ukuran berupa angka atau data. Dewasa ini meteran digital penyajian datanya tidak hanya dapat tampil di display saja, namun juga dapat berkomunukasi dan billing (menghitung) secara langsung oleh server komputer. User akan dapat melihat data report perbulan secara langsung melalui akses internet.
Membahas meter konvensional, meteran konvensional yang masih tersisa di indonesia saat ini
yakni seperti meter PLN pasca bayar atau sering orang
menyebutnya dengan listrik biasa / reguler. Meteran konvensional lain yang lain adalah meter debit air PDAM, dan meteran gas.
| Meter Gas. Gb. 3 |
| Meter Listrik Pascabayar. Gb.1 |
| Meter Air Gb.2 |
Petugas baca meter tiap bulan akan mendatangi pelanggan untuk mencatat stand (angka) meter terakhir sesuai jadwal yang telah ditentukan oleh perusahaan penyedia. Pembaca meter pada biasanya akan memfoto stand meter dan kemudian akan digunakan sebagai bukti bahwa pencatatan meter adalah benar.
Kendala petugas baca meter ketika di lapangan yang sering ditemui diantaranya sebagai berikut:
- Rumah Tutup
Merupakan keadaan rumah yang berpintu pagar/gerbang/rumah dalam keadaan tertutup. Keadaan ini akan menjadi tidak berlaku ketika petugas mendapatkan angka stand dan stand terdokumentasi walaupun rumah tutup (yang terpenting petugas mendapatkan data dan terdokumentasi standnya). Keadaan rumah tutup (stand tidak terbaca) akan mengganggu kevalidan data yang didapat, korektor biasanya akan merata-rata hasil baca terhadap pembacaan bulan-bulan sebelumnya. Inilah yang menyebabkan terkadang tagihan perbulan menjadi sama, dan ketika petugas bisa mendapatkan data stand meter pelanggan, maka tagihan pada bulan berikutnnya akan melonjak atau bisa jadi menjadi turun drastis.
Contoh, kasus dalam baca meter :
Bulan januari tanggal 15, suatu stand meter berhasil dibaca oleh petugas sebesar: 10 kwh, maka akan menjadi tagihan pada bulan februari yang harus dibayarkan : Rp. 10.000,- (mis. perkwh: Rp. 1000,- tanpa pajak).
Bulan februari tanggal 15, petugas akan kembali membaca, namun bulan ini petugas tidak mendapatkan angka stand karena rumah dalam keadaan tertutup dan stand tidak memungkinkan untuk dilihat. Korektor data akan merata-rata kwh terhadap bulan lalu sebagai usaha terakhir ketika petugas sudah tidak memungkinkan untuk mengulangi pembacaan. Sehingga akan dirata-rata menjadi : 10 kwh, padahal aslinya pelanggan menghabiskan 30 kwh, maka pada bulan maret tagihan tetap Rp. 10.000,-.
Bulan maret tanggal 15, petugas membaca meter lagi, namun pada bulan ini penghuni rumah membukakan pintu sehingga stand dapat dibaca, dengan angka stand yang dihabiskan 30 kwh. Korektor akan menambahkan kekurangan kwh bulan lalu (februari) dengan kwh bulan maret, sehingga sisa kwh februari + kwh maret. 20 kwh + 30 kwh = 50 kwh, akan melonjak menjadi Rp. 50.000,-.
Kasus itulah yang menyebabkan pelanggan menjadi kaget dengan tagihan yang harus dibayarkan melonjak 5x dari biasanya, padahal memang penggunaan kwh pelanggan melonjak pada bulan februari.
Sebaliknya, seperti ini:
- januari : 10 kwh sukses terbaca, (Rp. 10.000,-)
- februari : 10 kwh dirata-rata, tidak sukses terbaca, padahal aslinya 2kwh. (pelanggan mudik, mis.) (Rp. 10.000,-)
- maret : 9 kwh sukses terbaca.
maka maret akan menjadi : 2 kwh asli - 10 kwh rata2 + 9 kwh maret = 1kwh yang ditagihkan (Rp. 1000,-)
ref.___
gb1. http://beritabrantas.com/wp-content/uploads/2015/09/kwh1.jpg
gb2. http://www.timlo.net/wp-content/uploads/2013/09/meteran-PDAM.jpg
gb3. ://w27.indonetwork.co.id/pdimage/28/4850828_gasmeterbeta.jpg
ref.___
gb1. http://beritabrantas.com/wp-content/uploads/2015/09/kwh1.jpg
gb2. http://www.timlo.net/wp-content/uploads/2013/09/meteran-PDAM.jpg
gb3. ://w27.indonetwork.co.id/pdimage/28/4850828_gasmeterbeta.jpg
Tidak ada komentar:
Posting Komentar