Malang, 07 Oktober 2015. Pagi buta jam 03:00 WIB aku bangun dari tidur untuk menunaikan sholat isya' yang lupa aku kerjakan, bahkan aku sengaja melakukannya pada waktu pagi buta itu untuk bisa digabung dengan sholat tahajud. Melihat rembulan yang sangat tipis seakan-akan seperti sabit/arit yang digunakan untuk carok di madura.
Pagi itu sangat damai, aku terbangun karena suara televisi yang sengaja aku tinggalkan menyala. Orang umum berkata "tivinya melihat orang" bukan orangnya yang melihat televisi. Pagi ini terfikir, alangkah kangennya aku dengan suara gemericik diatas genting, petir yang menyeruak "dar, der, dor". Terlalu lama di malang belum mendapatkan curahan rahmat berupa kenikmatan hujan. Aku kangen dengan air yang membasahi lingkunganku, seakan debu-debu tidak lagi berterbangan dan hidungpun tidak dipenuhi dengan kotoran debu "upil".
Memang menurut salah satu sumber seperti BMKG menyatakan bahwa indonesia akan lama menerima hujan, diperkiraan oktober ini kondisi kemarau akan berkurang. Penyebab utama adalah karena kondisi elnino dimana terjadi kenaikan suhu di permukaan laut di Pasifik tengah mencapai 2,2 derajat selsius.A. Ini menyebabkan tubuh kedinginan ketika bangun pagi dari tidur di bumi arema ini. Berbeda dengan ketik aku mbolang ke jakarta, mau tidur dan bangun tidur masih saja kepanasan.
Memang menurut salah satu sumber seperti BMKG menyatakan bahwa indonesia akan lama menerima hujan, diperkiraan oktober ini kondisi kemarau akan berkurang. Penyebab utama adalah karena kondisi elnino dimana terjadi kenaikan suhu di permukaan laut di Pasifik tengah mencapai 2,2 derajat selsius.A. Ini menyebabkan tubuh kedinginan ketika bangun pagi dari tidur di bumi arema ini. Berbeda dengan ketik aku mbolang ke jakarta, mau tidur dan bangun tidur masih saja kepanasan.
| Jalanan berdebu. Gb.1 |
| Caping gunung gbr.2 |
Lamanya kemarau ini mengingatkanku pada waktu kecil kira-kira berumur 12 Tahun, waktu itu perayaan kemerdekaan indonesia 17 agustus, di desa talun kec. sumberrejo bojonegoro dirayakan salah satunya dengan tegak jalan yang melewati jalan raya depan rumahku. Waktu itu anak-anak yang lebih tua dari aku berjalan tegap menuju lapangan sumberrejo dengan memakai tutp kepala caping gunung, mulai berlari karena hujan mengguyur lumayan deras. Perasaan waktu itu pikiran merasa tenang nyaman tidak ada masalah apapun, mungkin juga karena masih kecil tidak banyak memiliki beban dan tanggungan. Bebas melakukan apapun, walau terkadang terkena marah orang tua.
Ref____
A. http://www.rmol.co/read/2015/09/14/217198/Andi-Eka-Sakya:-Kemarau-Lebih-Panjang-Karena-Elnino,-Diperkirakan-November-Mulai-Hujan-
Gb.1. http://sentananews.com/media/news/i/2015/07/07/debu_jalan.655x330.JPG
Gb.2.http://kfk.kompas.com/image/preview/aW1hZ2VzL3Nma19waG90b3Mvc2ZrX3Bob3Rvc18xMzAwMjUxNTEyX3UwYmQ2M0RmLmpwZw%3D%3D.jpg
Tidak ada komentar:
Posting Komentar