Aku, ya kata ganti yang menunjukkan kepada si pengucap, kata ganti orang pertama.
Dahulu waktu kecil aku gambarkan diriku sebagai seorang yang hebat, kuat, dan seakan aku hidup terus, bisa mengalami disemua zaman.
Aku gambarkan diriku dahulu sebagai seorang yang bisa bersenang senang, karena ada yang menanggung aku, ibuku, ayahku serta keluargaku yang kaya, maupun ada yang suka memberi makanan ringan keaku.
Sepulang dari mengaji di musolla aku mampir ke pak dhe aku, walaupun hanya mampir, tetapi mesti aku diberi olehnya jajan pentol setengah plastik dengan saus tomat, seakan semuanya gratis terus sampai nanti.
Dia, selalu senang menawarkan makanannya keorang lain, teringat oleh ku setiap mampir selain diberikan jajan pentol, juga aku ditawari untuk makan dengan lauk suwi-wi (sayap ikan), teringat sampai saat ini.
Hidupku senang waktu kecil, hanya tinggal menangis, aku sudah dapat bantuan seakan-akan orang tua disisiku adalah body guardku, hanya dengan merengek aku sudah mendapatkan yang aku inginkan.
Pada saat sekolah MI aku tidak tahu buat apa aku diajarkan sholat, buat apa untuk susah-susah menghafalkan teks dalam buku bahasa arab, buat apa aku menghafal jus ama. toh aku sudah bahagia bisa bermain dengan sebayaku.
Walaupun aku sering dijahili teman sebanyaku, aku tinggal mengadu pada ibu ku, dan ahirnya yang menjahili aku akan ditegor dan dimarahi. seenak itu aku dahulu.
Banyak yang usil padaku, dan bahkan pada tahapannya, MI (sederajat SD) aku dijahili sama teman yang berinisial ar pada saat kelas 4, dan pi kelas 6.
ketika menginjak MTs (sedrjat SMP), aku dijahili oleh kk pada kelas 3, dan menginjak MAI (sederajat SMA) dijaili hn pada kelas 4. Terakhir kuliah, walaupun dia tidak usil secara langsung, namun dia usil dengan banyak hutang yang sampai sekarang blm terbayar ia adalah ro. walaupun aku dijahili setiap zamannya, dan ketika bekerja ai yang sering mengejek dan mencaci aku padahal dia bukan bos, atau diatas aku.
Dengan ayahku yang cukup punya, beberapa permintaanku terkabulkan, aku dibelikan sepedah kayuh baru, dibelikan tamia (mobil-mobilan balap), dibelikan gameboot, aku merasa senang waktu itu.
Terdapat nenek tetangga (yh) sering kerumahku memijiti aku sampai enak dan tertidur.
Terdapat kakek sebagai target usilanku SD.
Terdapat kakak yang sering belikan aku makanan enak.
Terdapat ibuku yang sering aku mintai uang jajan, tempat mengadu, tempat menagis.
Terdapat bapakku yang sering bercerita, menantang aku, mengejek aku (untuk lebih kuat, dan cerdas, tangkas)
Terdapat keluarga aku yang seakan-akan mengayomi aku.
Yang kubutuhkan dahulu adalah bermain.
Namun, semua kenyamanan dan itu adalah sementara, dan anggapan aku salah.
mereka yang telah memberi aku keamanan dan keenakan, satu persatu meninggalkan dunia. dan yang lainnya telah tua dan berkurang kemampuannya.
kakekku sebagai temanku jalan-jalan kebelakang rumah, telah tiada.
nenek tetangga yang sering memijit dan menemaniku waktu itu, juga telah tiada.
kakakku telah berkurang memberi, karena sudah punya istri dan kesetiannya ke istri, memang benar seperti itu dan aku menyadari tanpa rasa iri dihati.
pak dhe yang dulu memberi jajan juga telah tiada.
pak lik yang mempersilakan untuk tidur dirumahnya wktu latihan kerja juga telah tiada.
bapakku sekarang kesehatannya berkurang, namun masih eksis dengan usahanya.
namun aku malu, hingga saat ini masih menggantungkan ke ibuku.
bersambung......